Thursday, July 20, 2006

“kenapa sih nulis blog’nya pakai bahasa inggris?” -Hilda Maslie-

Hilda adalah sahabat saya yang sifatnya mirip sama ibu saya sendiri, ulang tahun mereka cuma beda sehari, jadi mungkin benar secara astrologikal mereka berdua memiliki banyak kesamaan, seperti sifat galak yang melebihi kumpeni belanda dan keganasan saat menawar barang di mangga dua.
Hilda dan saya mulai berteman sejak awal masuk kuliah, dia teman sekelas saya.
Saya masih inget banget, waktu itu mata kuliah yang paling bikin begadang di semester-semester awal adalah mata kuliah nirmana.
Karena, selain dibutuhkan perasaan “nyeni”, mengerjakan nirmana juga membutuhkan kesabaran sekelas dalai lama. Mulai dari bikin adukan cat poster, memotong rapi karton bc yang sudah diwarna, menempel dan membingkai karya nirmana dengan karton duplex ukuran 3cm.
dan, saudari-saudara, jikalau kesabaran itu bisa dibina, maka jari-jari yang segede pisang ambon tentulah takdir! (dan jari saya, walaupun gak sebesar pisang ambon tetapi kemampuannya seolah saya berjari pisang ambon)
Jadilah, harus lebih-lebih sabar kalau mengerjakan nirmana.
Alkisah, suatu hari, di tengah-tengah mengerjakan tugas nirmana (sekitar jam 1-2 pagi) ditemani acara di saluran tivi swasta (yang tidak memikirkan pikiran orang lain) muncullah iklan penayangan filem misteri, dan bintangnya adalah SUZANNA! Maknyos! Suzanna dan malam satu suro…
Yang terjadi berikutnya, tentu sudah bisa dibayangkan bukan? Saya rapikan semua cat poster, karton bc, karton dupleks dan semua alat-alat ke dalam kotaknya (sambil membaca-baca doa).
Persetan nirmana!
Langsung saya masuk ke kamar adik saya dan tidur berpelukan…
Barangsiapa menanam ketakutan, dia akan menuai kemarahan asdos-asdos nirmana (yang gak kalah serem dengan suzanna). dan saya, secepat larinya gundala putra petir, mengerjakan sisa tugas nirmana yang belum selesai.
Itulah awal pertemanan saya dengan Hilda, di saat saya sedang beraksi seperti video yang di fast forward, Hilda (yang ketika itu belum saya kenal-kenal amat) langsung tanpa pamrih membantu menggunting dan menempel.
Maka, jalinan pertemanan saya dan Hilda dimulai.
Berantem-berantem, entah berapa kali sewaktu kuliah…alasannya?sederhana saja, saya bisa meninggalkan nirmana semata karena suzanna, sementara Hilda lebih baik dia (bikin suzanna) mati ketakutan daripada tugas gak selesai.

0 Comments:

Post a Comment

Links to this post:

Create a Link

<< Home